Monday, May 30, 2011

Kesibukan Yang Tidak Akan Berakhir


Seseorang pekerja akan mengulang rutin harian yang sama setiap hari. memulakan hari mereka dengan bekerja seawal 7 pagi dan menghabiskan kerja mereka sehingga lewat 7 petang. Kemudian, pulang ke rumah untuk menonton rancangan televisyen kegemaran, melayari internet, bersama pasangan, mengupdate status laman sosial atau lepak bersama kawan-kawan.  Mereka mencari-cari apakah perkara yang perlu disibukkan apabila ada masa terluang di malam hari, di hujung minggu atau cuti umum.

Itulah kesibukan rutin harian seorang pekerja dan mungkin bagi seorang pelajar. Hidangan hiburan yang dicari bukan lagi menghadiri majlis ilmu agama/halaqah/ usrah , membaca alquran, mencari mad'u untuk dibina, berdakwah, membaca buku-buku perubahan diri atau kesibukan amalan akhirat, namun, kita telah disibukkan dengan hiburan orang-orang barat yang semestinya menjadi hidangan yang paling lazat kala ini.

Inilah yang dikatakan, 

" Apabila kita tidak disibukkan dengan kebaikan, maka kita akan disibukkan dengan keburukan"

Kesibukan MEREKA


Jika dahulu, Rasulullah saw dan sahabat-sahabat disibukkan dengan ibadah, halaqah-halaqah ilmu, dakwah, perang, infaq dan membangunkan ekonomi untuk dijadikan harta dakwah. 


Rasulullah saw sibuk dengan tugasnya menjadi ketua negara, ketua perang, ketua keluarga, berdakwah dan ibadah kepada Allah.


Musa'b sibuk dengan tugasnya berdakwah di Madinah.


Abu Bakar sibuk menjadi sahabat Rasulullah saw yang paling setia.


Abu Hurairah sibuk mengumpul hadith daripada Rasulullah saw dan otaknya adalah gudang pengetahuan.


Khalid al Walid sibuk menjadi panglima perang yang berwibawa.


Siti Khadijah sibuk menguruskan perihal Rasulullah dan menjadi pendokong setia baginda.


'Ibn. Sina dan Al-Razi sibuk dengan hafalan alquran, kajian-kajian tentang perubatan dan penghasilan karya-karya yang masih segar dan menjadi rujukan hingga kini.


mereka sibuk dengan perkara-perkara yang melibatkan kebahagiaan dunia dan akhirat . tapi kita?


Dunia yang menyibukkan

dunia hanyalah tempat bercucuk tanam

Seorang pelajar sering disibukkan dengan assignment, kerja kursus dan nota-nota yang bertimbun.
Seorang ibu sering disibukkan dengan masalah anak-anak, kerja rumah dan suami.
Seorang doktor sering disibukkan dengan melayan karenah pesakit, oncall dan seminar.
Seorang cikgu atau pensyarah sering disibukkan dengan mengajar, melayan karenah anak murid dan kelas tambahan.


Alasan-alasan inilah rupanya menjadikan status mereka sibuk. Padahal, hakikatnya mereka punya masa lapang yang banyak.


Ayuh semak. 


Sesibuk mana pun seseorang mereka masih lagi mampu untuk mengupdate laman Facebook dan duduk berjam-jam di hadapan laptop. Lihatlah statistik yang dilakukan, seramai 10.2 juta dari 28.9 juta rakyat Malaysia mempunyai Facebook dan telah pun disibukkan dengan 'kitab' buatan Mark Zuckerberg ini setiap masa.


Sesibuk mana pun seseorang, mereka masih boleh mengupdate blog dan melompat daripada blog lain ke blog lain setiap hari.


Sesibuk mana pun seseorang, mereka masih mampu mendownload movie/anime dan menontonnya berjam-jam di hadapan laptop.


Sesibuk mana pun seseorang, mereka masih mampu menghabiskan setiap episod drama di televisyen.


Sesibuk mana pun seseorang, mereka masih mampu menghabiskan beberapa keping cdbollywoodhollywood dan korea.


Sesibuk mana pun seseorang, mereka masih mampu membalas  setiap mesej daripada pasangan mereka dan masih ada masa untuk membuat temu janji setiap minggu atau setiap hari.


Akhirat yang diabaikan


Apabila manusia sibuk dengan dunia, akhirat hanya dipandang sebelah mata.


Solat lewat waktu dirasakan biasa.
Alquran hanya dibaca kadang-kadang sahaja .
Qiamullail hanya dilakukan bila ada hajat di dada.
Halaqah atau usrah hanya diguna pakai bila terasa kosong di jiwa dan bila sudah bosan dengan dunia.
Dakwah dikatakan tidak wajib bagi dirinya. jika orang lain sudah buat, maka dia telah terlepas daripada dosa.


Fahaman sonsang inikah yang telah meresap di dalam hati kita?


Apabila diajak kepada amalan yang mendekatkan kepada Allah dan jaminan kebahagiaan kita di akhirat, kita sentiasa mengelak dan menjadikan sibuk sebagai alasan utama.
Namun, masa lapang yang ada digunakan untuk perkara sia-sia seperti Facebook, blog, movie dan games, kita boleh pula mengatakan ia adalah untuk menghilangkan ketegangan setelah penat bekerja atau belajar. Perkara-perkara ini bukanlah semakin menghilangkan ketegangan malah ia hanyalah satu keseronokan yang mampu menjauhkan diri daripada Allah. Padahal untuk menghilangkan ketegangan itu adalah melakukan perkara-perkara yang mendekatkan diri kepada Allah itu sendiri.


Adakah berani untuk kita mengemukakan alasan ini dihadapan Allah kelak? Malulah kalian dengan masa yang ada dibazirkan dengan aktiviti yang tidak bermanfaat.

adakah kesibukan akan terhenti setelah kita mati?

Penutup: bila ia akan berakhir?


Adakah kesibukan ini akan berakhir setelah kita habis belajar?
Atau setelah kita jadi bos dalam sebuah syarikat?
Atau setelah bersara?
Kita tidak akan dapat rehat walau apapun kondisi kita.


" Sesungguhnya rehat bagi seorang mukmin itu setelah kakinya menginjak ke syurga"


Kerehatan bagi kita bukanlah kematian. Kalau ia adalah kematian, bagaimana di alam barzakh? Kita mungkin sibuk dengan pukulan-pukulan keras daripada malaikat kerana dosa dan noda. Semoga dijauhkan ya Allah.


Semoga kesibukan kita pada hari ini adalah menyumbang pada agama, bukan menjadi penumbang agama. ayuh, fikir-fikirkanlah.


p/s: sibuk dengan dunia adalah  racun kepada kebahagiaan akhirat.

Friday, May 20, 2011

Kisah Seguci Emas~


Kisah Seguci Emas
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)


Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad n dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.
Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:


اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا


Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”


Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”


Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”


Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”


Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”


Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”


Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah n ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. 


Wallahul musta’an.


Dalam hadits ini, Rasulullah n mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. 
Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.
Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?
Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”


Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.


Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.


Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.


Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah n dalam hadits An-Nu’man bin Basyir c:
وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ
“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”

Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah n menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.

Rasulullah n sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:
دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ
“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”


Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.
Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah l, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.


Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur.
Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) n, yang 

Allah l berfirman tentang beliau n:
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)


Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.


Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah l membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.

Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.

Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.


Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan:
Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.


Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.


Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.
Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.


Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?
Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”


Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”


“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.


“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.


Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.


Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”


“Tidak,” kata pemilik kebun.


“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”


“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.


Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”


Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”


Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”


Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”


Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”


Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”


Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?


“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.


Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.
Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?


Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.


Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”


Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”


“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah l.”


“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.


“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah l murka.”


“Dia katakan kamu tuli.”


“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah l.”


“Dia katakan kamu lumpuh.”


“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah l.”


Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah l yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah t.


Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. 


Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.


Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?


Wallahul Muwaffiq.

Sunday, May 15, 2011

Alhamdulillah~



Bismillahirrahmanirrahim..

Setelah sekian lama tak menulis blog atas “kekangan masa”, hari ni, Alhamdulillah dpat sedikit masa untuk coretan kali ni.. 
Alhamdulillah, bru je selesai modul Cardiovascular systems..skali dgn exam.. sekarang dah masuk Respiratory System.. *dah betul2 hafal ke modul yang lepas tu?







Minggu lepas pun baru je habis kelas Arab Ammi..Alhamdulillah..InshaAllah akan smbung part 2 bila tiba waktunya :D  shukran SOHA= our teacher..kerana kamulah yang menyampaikan Ilmu Allah, dapat kami amalkan untuk terus berjuang di bumi Allah ni.. *betul2 praktiskan ke ni?




Actually nk cakap pasal Baba. Apa itu baba? Baba adalah ayah@abah dalam bahasa Arab Ammi.... Alhamdulillah, hampir setahun lebih ana menetap di sha’ah ni.. rumah kami digelarkan sabagai OHANA = FAMILY.. memang 1 family pun..family seIslam..inshaAllah..


Baba sgt baik..dia anggap kami sebagai anak2 dia..walaupun dah ada 3 org anak perempuan smuanya..hehe..seronok dpat baba camni..tahun lepas masa nk pulang Malaysia, dialah yg mnghantar ‘anak2’nya ke Airport.. :) baba..shukran..kamulah ayah kami yang kedua.. dan setiap hari dia mendoakan kami..’dukturah kabirah!! Rabbuna yunajjah!! Kabir inshaAllah!’ hehe.. amen..semoga doanya dimakbulkan Allah.. kadang2 tanpa segan, mama kami, memberikan sedikit juadah.. sedap..sangat2 terharu.. anaknya yg peramah, sopan..susah nk jumpa perempuan camni..bwah ni antara makanan2 tu..mahshi, kuih raya n lain2..*terlupa nama..hehe

Paling xdapat dilupakan masa majlis pertunangan anaknya..shima’.. pengorbanan baba tinggalkan majlis seketika untuk mengambil kami di rumah, amatlah mengharukan kami.. ;( shukran baba.. kereta baba kecil..tapi nothing is Impossible right? :)  bayangkan, mama, ana,& 2 orang duduk di bahagian belakang..bahagian pula, ada 2 org housemate lgi.. *_* hehe..
Apa-apa pun, shukran baba, kerana kamulah Ayah n Guru kami..
Selamat hari guru! :)

A152

Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu (dengan mematuhi hukum dan undang-undangKu), supaya Aku membalas kamu dengan kebaikan
 dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur (albaqarah:152)

Tuesday, May 3, 2011

Istighfar~

Pada suatu hari, Imam Ahmad Bin Hambal sedang mencari tempat untuk berehat di waktu malam selepas permusafirannya di siang hari. Baliau pergi ke masjid untuk solat dan berniat untuk bermalam di masjid tersebut. Namun tindakannya itu dihalang oleh orang tempatan kerana takut-takut apabila orang lain melihat beliau berehat dan tidur di situ, orang lain akan berbuat perkara yang sama.

Maka Imam Ahmad Bin Hambal pun akur dan dia keluar dari masjid tersebut dan mencari tempat untuk berteduh. Sedang beliau berjalan, seorang pemuda terlihat akan beliau. Pemuda tersebut menawarkan Imam Ahmad Bin Hambal untuk bermalam di rumahnya setelah melihat Imam Ahmad Bin Hambal seolah-olah sedang mencari tempat untuk bermalam.

Pemuda tersebut lalu membawa Imam Ahmad Bin Hambal ke rumahnya. Pemuda itu merupakan seorang pembuat roti. Rumahnya agak selesa kerana kehangatan pembakar roti. Selepas mempelawa Imam Ahmad Bin Hambal untuk berehat, pemuda tersebut meneruskan kerjanya membuat roti. Sedang pemuda tersebut membuat roti, Imam Ahmad Bin Hambal duduk di sebelahnya.

Imam Ahmad Bin Hambal memperhatikan gerak geri pemuda tersebut menguli tepung untuk dijadikan roti. Sambil pemuda tersebut menguli tepung, dia beristighfar. Istighfarnya selari dengan tangannya yang menguli adunan tepung.

" Astaghfirullah al-azim. Astaghfirullah al-azim. Astaghfirullah al-azim."

Imam Ahmad Bin Hambal pun bertanya kepada pemuda tersebut.

"Sejak bilakan kau melazimi dirimu dengan perkara ini (istighfar) ?"

"Sejak aku mula membuat roti," jawab pemuda tersebut.

"Sejak bila kau mula membuat roti?," tanya Imam Ahmad Bin Hambal lagi.

"Sejak aku baligh, aku menolong ayahku membuat roti. Sehinggalah kini," pemuda itu menjawab sambil menguli adunan.

"Adakah kau juga berdoa?," tanya Imam Ahmad Bin Hambal.

"Ya.. Aku berdoa pada Allah agar aku ditemukan dengan Imam Ahmad Bin Hambal,"jawab pemuda tersebut.

Imam Ahmad Bin Hambal pun berkata, "Akulah Imam Ahmad Bin Hambal.."

So, moral of the story is : Antara kelebihan istighfar adalah, hajat atau doa kita akan dimakbulkan dengan izin Allah.



Dalam Fatrah Imtihan..doakan yang terbaik.. smoga diberi kemudahan olehNya..inshaAllah